Debut Novel

One of the greatest moment in my life was the second i finished my first book. I was suddenly lay my head down upon a naked floor to do prostration of gratitude. To God, i couldn’t say a thing other than many-many-many thanks for everyting. It’s true, back then i was speechless. >___<

Some people say that it’s not that hard to write a novel. But it doesnt work that way for me. I found that writing novel was stressful, sometimes drove me crazy. High expectation, too perfectionist, lack of confidence, and the most burdening thing; proof to myself that i’m a writer. Yeah, it was all happen to me. Those the things that made me oftenly lock my self from outside world. T___T

And after many times of plot changing, character changing, and other changing, at exactly Feb 21 i finished my debut on writing. I really believe that nothing can make a writer  feel much relieves after a years of research, months of writings, days of backbone ache (actually happened to me, lol) other than put the word “FINISH” at the bottom of the very last paragraph.

My novel is finished!!! Yeahhhhh… *whippin’ tail, jumpin’ around*

Siawase no Pan (Bread of Happiness) – Film review

shiawase no pan

Bread of Happiness, sesuai namanya roti-soti sajian dari Kafe Mani milik pasangan Mizushima ini memang membawa kebahagiaan bagi yang menikmatinya. Roti yang sederhana, diolah dengan rasa cinta yang mendalam akan sebuah profesi, setiap sobekan dan gigitan dari roti ini ternyata mampu membawa perasaan senang dan tenang. Kalau di hati ada yang empet, bisa langsung plong. Kalau ada rahasia yang menyesakkan, bisa langsung luber dan lega. Kalau ada pikiran yang ruwet, bisa langsung gamblang dan tentram. Tentunya ini  semua tersaji tanpa bantuan jampi-jampi, apalagi kemenyan dan sesaji. Karena ini hanyalah sebuah cerita tentang roti… hehehe.

Seperti kebanyakan film jepang sejenis, misal Rinco’s Restaurant, Kamome Diner, Megane, tema umumnya adalah apresiasi terhadap kehidupan, diri sendiri, dan orang sekitar. Continue reading

Ceracau kacau

Kata-katamu kudengar semuanya. Aku memperhatikan titik dan komanya. Ada jeda, ada hela, ada tanya. Mulutmu yang naik turun juga tak luput dari tangkapan mataku. Segala ekspresimu juga terjejak jelas. Aku tahu itu. Aku melihat dan mendengar. Hanya saja… otakku tak dapat mengatur masukan impulsmu… Otakku terlalu carut marut.

Aku melihat gambar kartun di sprei yang kau duduki, tersenyum lebar, kupikir sama riangnya dengan apa yang terlukis di wajahmu kala itu. Sambil kau terus berucap tanpa henti, gambar kartun itu turut menari, juga tanpa henti. Mengayun-ayun pikiranku, berebut fokus dengan sampaianmu.

Lalu kau menepuk pundakku, membuang paksa kartunku, menarik separuh wajahku, kembali utuh menghadapmu. Aku kaget, sejenak kukira benar kamu yang menggugahku, ternyata kamu telah beranjak dan kini berganti kumpulan orang-orang itu. Mereka meminta, menuntut, mengharap, seperti biasa. Tiba-tiba saja aku teringat trenggiling, ingin aku bergelung dan menyembunyikan diriku dari mereka. Tidur dalam perlindungan dan berharap sebentar lagi akan datang pagi…

Oh, kamu datang kembali. Masih dengan senyum lebar dan berucap tanpa henti. Aku mendongak untuk meyakinkan diri bahwa itu benar kamu. Benar kamu, tapi kenapa kamu masih dalam bentuk orang-orang itu? Jangan-jangan kamu tidak pernah pergi, hanya otakku yang bermain proyeksi.

Satu dua tiga … sejuta… semilyar… Rasanya aku sanggup bergelung kembali dan menghitung sampai selama itu. Rasanya aku tidak perlu dunia, otakku sudah terlalu ramai.

 

*when i’m in crazy situation

Kapan Kembali ke Jalan Allah?

Jalan Allah itu lurus sehingga siapa pun bisa segera melihatnya sebagai jalan lurus. Sesekali setan mungkin bisa menggelincirkan, dengan mendorong nafsu yang tabiatnya menggelora, sehingga jalan lurus itu tampak terjal, berbatu atau ditutup aral. Lalu kita memilih jalan lain yang tampak nyaman. Tetapi sebentar kemudian, bukankah kita segera mengenali bahwa jalan lain itu hanya fatamorgana? Dan fitrah kita segera memanggil, kembalilah… kembalilah….

Dan kita segera tersadar, bahwa jalan lurus itulah satu-satunya jalan keselamatan….
Wahai diri, cobalah bebaskan dirimu dari keinginan-keinginan sesaat yang selalu menyelubungi.

Bukankah kita lahir telanjang, dan akan kembali dibangkitkan tanpa pakaian apalagi bintang-bintang kebesaran?
Bukankah kita lahir menangis, dan akan kembali tercekam dalam kubur yang sempit?
Bukankah kita, betapa pun kaya dan polulernya, tidak membawa seorang pun teman ketika menghadap-Nya?
Bukankah kita harus bertanggung jawab atas segala perbuatan, meski kita melakukannya karena terpaksa atas desakan orang lain? Mungkin atasan, mungkin juga teman atau anak isteri…?

Kembalilah, wahai diri. Jangan teruskan melangkah di jalan sesat. Jangan tutupi panggilan fitrah yang selalu menyeru.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi akan kembali?

*Original post from http://didisederhana.wordpress.com/

Ikhlas (cerpen)

Berapapun tangan yang terulur, tidak akan mampu memungut apa yang telah tertebar dan tidak akan pula sanggup menebar apa yang telah dipungut. Siapa yang mampu menolak lengan takdir? Sekalipun seluruh manusia bermunajat dan mengharap beberapa detik mundur, tiada mungkin merubah apa yang telah direncanakan-Nya.

Lalu tidak adakah kemuliaan dari mereka yang telah berharap? Tidakkah satu saja permohonan itu diijabah-Nya?

Kadang aku ingin meronta ketika mereka biasa berkata, selalu ada rahasia di dalam catatan-Nya. Sungguh, kenyataan ini susah membuatku percaya… Continue reading

Ngopi Ala Barista (Resensi Buku)

Judul Buku : Ngopi Ala Barista
Penulis : Doddy Samsura
Penerbit : Penebar Plus+
Tebal buku : 156 hal
Harga : Rp. 59.000,-

Satu buku mengenai penyajian kopi yang terbilang komprehensif dan lengkap. Kelak menjadi salah satu penanda masa perkembangan geliat kopi di Indonesia.
(Dian – Owner Philocoffee Project)

Buku ini akan menjadi panduan para barista di Indonesia. Belum pernah ada buku di Indonesia yang sedetail ini dalam membahas kopi. Foto-fotonya akan memudahkan para barista atau calon barista untuk memahami tenatng kopi.”
(Ronald Prasanto – Barista, Molecular Gastronomy Coffee, dan Latte Art Artist)

Well..well..well… Mungkin ini adalah literatur tentang kopi yang pertama dan terbaik menurut saya. Bagi penggemar kopi seperti saya, bisa dibilang ini adalah buku yang wajib dikoleksi. :)

Tidak tebal, hanya sekitar 156 halaman dan dicetak dengan jenis kertas art paper. Seperti majalah, iya, dan membacanya pun sangat santai dan tidak butuh waktu lama.

Seperti halnya buku debut lainnya, pendekatan Datuk Soddy Samsura dalam menulis sangatlah gamblang dan sederhana. Mungkin, menurut saya, karena memang disegmentasikan untuk kaum awam yang ingin tahu seluk beluk kopi dengan lebih mendalam. Tetapi jangan salah, bukan berarti isinya ilmu kacangan yang tidak berbobot. Paduan deskripsi singkat dan ilustrasi yang ciamik, membuat buku ini seperti kitab wajib bagi pecinta kopi.

*Psstt… di dunia black devil ini memang tidak sesederhana seperti yang orang bayangkan. Tapi rasanya tidak perlu juga dibuat rumit, iya tho…? Hehe…

Continue reading

Me, morning, and coffee

I woke up this morning like usual. Washed my face, turn on my coffee machine, burn some breads, and then watch some news on television. There’s no rush, no quick this and that, no appointment to catch, no absent machine waiting, no nothing.
Well, i do have some task to do, some works, but know what? I can do it later or laaater… Yeah, i got the most relaxing and flexible time of my life.

My friend once said that i have a high lifestyle, well she was pointing to a typical of a person which always having their best coffee and living in a luxurious apartment. Well, the fact is i dont have any kind of apartment at all. But yeah, i have a nice place like one. :)

The life i have now seems like heaven. I mean, who wouldn’t have this flexible time? doing anything as you pleased, no other poople yelling at you, no demanding coworker, and other great thing.

But what is it for me?
*Hufh, sigh…*
I feel kinda lost, i mean i have this privileges but yeah i just let it fly away. Huhhuhuhu.. T____T
And… from this day on, i will change it. I’ll have my dream come true. Huwahahahahaha… *buto ijo laugh*

And… now, get back to work again. Yuuukkk…
*Eh, lupa belum mandi… ah sudah lah, ntar aja… :D :D :D